Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Belajar dari jejak Tsunami

Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita kunjunganku ke Banda Aceh sebelumnya. Kenapa dibuat terpisah, karena perjalanan 3 hari ini sebetulnya tidak ada hubungannya dengan kegiatan mengajar di Toko Bogor. Kali ini murni jalan - jalan bersenang - senang *nyengir*. 

Saat mendengar aku mau ke banda Aceh, Papaku antusias, pengen maen juga Ke Banda. Jadilah beliau datang ke Aceh bersama adikku Tanti, pada hari ke - 6 aku di Banda. Udah diatur nih ceritanya, mereka datang saat aku sudah selesai urusan mengajar. Jadwal landing pesawat Papa dan Tanti jam 12.30, membuatku santai pagi itu di hotel. Bosan dengan sarapan di hotel, aku berjalan kaki menuju Pasar Peunayong menuju deretan warung penjual sarapan. Warung – warung ini sebelumnya sudah aku lihat saat aku melihat – lihat pasar tempo hari. Pilihanku jatuh pada Warung Lontong Sayur Bu Nas, tepat di pertigaan pasar Peunayong – Rex. Rex adalah pusat jajan serba ada yang baru ramai pada saat malam hari.

Di warung Bu Nas, aku memesan Lontong Sayur. Lontong Sayur yang tersaji ternyata Lontong Sayur versi Medan. Aku tahu karena makanan ini favoritku saat ke Medan atau pulang kampung ke mertua di Labuhan Batu. Lontong, Gulai Sayur, Taoco Udang tahu, Keripik Kentang Tempe, Balado Telur, dan tambahan bumbu Rendang. Oh astaga, pagi itu Banda jadi terasa makin indah karena sajian lontong di depanku ini. Rasanya? Jangan tanya, enaaaaak banget. Kata orang melayu, lomak nian! Setara rasanya dengan Lontong Medan kak Lin  yang ramai pembeli di depan SMA 1 Medan daerah Kampung Keling. Pantas saja kalau warung lontong bu Nas ini  ramai sekali pembelinya.


Selesai sarapan lontong, aku kembali ke hotel untuk bersiap chekout sambil menunggu jemputan. Pagi itu  aku  dijemput mantan anak buah papaku dulu. Setelah checkout dari Hotel Medan, aku bergerak ke hotel Hermes di daerah Ule Kareng. Pindah hotel ini menyesuaikan dengan papaku, maklum lah.. hehhehe. 


Urusan di hotel Hermes selesai, aku bergerak menuju bandara untuk jemput Papa dan Tanti. Pesawat mendarat tepat waktu, pukul 12.30 lewat sedikit aku sudah bertemu keduanya. Dari bandara kami langsung menuju markas Kodam Iskandar Muda, di mana kebetulan sang Panglima Kodam adalah adik kelas papaku. Temu kangen diantara mereka berlangsung hangat, karena sudah lama nian tidak bersua. Di ruangan kerja beliau kami juga dijamu dengan makan siang lezat seperti Ayam Tangkap, Gulai Kambing, dan beberapa lauk lezat lainnya. Terimakasih ya Om.. :)

Dari markas Kodam, kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Baiturrahman, sekalian untuk sholat. Setelah sebelumnya aku kunjungi masjid megah ini di malam hari, akhirnya bisa menikmati keindahannya di siang hari. Luar biasa memang masjid ini. Mengisyaratkan keanggunan tak terbantahkankan. Mulai dari arsitekturnya , suasananya, juga sejarah panjangnya. Masih lekat di ingatanku pemberitaan seputar bencana besar Tsunami yang menimpa tanah Aceh. Gelombang air laut yang menghantam kota Banda, surut di batas pagar Masjid ini. Meskipun juga terkena dampak banyaknya sampah disekitarnya, namun Masjid ini tetap kokoh berdiri memberi perlindungan pada warga. Subhanallah. 










Sampai kini, Masjid Baiturrahman tetap megah berdiri. Bersih dan tertata rapi. Seneng deh melihatnya. Sayang karena saat itu sedang tidak suci, jadi tidak bisa masuk ke dalam Masjid.  Cukup foto - foto di luar saja :P




Selepas dari masjid kami langsung diajak menuju lokasi mendaratnya PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) - Apung, yang pada saat bencana Tsunami Desember 2004 lalu bergeser dari tempatnya di laut didorong gelombang Tsunami menuju daratan sejauh 5 km.  Tepatnya di Gampong (Kampung) Punge Blang Cut, Banda Aceh. PLTD Apung yang sangat besar ukurannya ini terdorong dari lautan dan menghancurkan ratusan rumah di sekitar pantai. Membayangkan kejadiannya saja sudah sangat mengerikan. Entah bagaimana dasyatnya kejadian sebenarnya.



Di lokasi ini dibangun monumen Tsunami sebagai lambang peringatan kejadian maha dasyat itu. Tertera juga daftar korban yang bisa tercatat. Membaca nama demi nama korban membuat bergidik. Bagaimana jika diantara mereka ini adalah satu keluarga utuh ya, habis rumahnya rata dihantam tsunami. Huhuhuhu sedih banget.




Eks PLTD Apung ini bisa kita naiki hingga bagian atasnya. Dari sini kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah. Selain laut bagian utara pulau Sumatera, puncak gunung Seulawah pun bisa terlihat dari bagian tertinggi PLTD ini. Diantara terpaan angin , kita juga bisa melihat tatanan pemukiman rumah penduduk yang rapi dan asri. Tak nampak terlihat bahwa di daerah sini dahulu pernah sangat porak poranda. Subhanallah, Alhamdulillah. Betapa Allah mengganti apa yang telah hilang, dan memberi ketabahan pada keluarga yang masih bertahan hingga kini. 


Dari gampong Blang Cut kami bergerak menuju Pantai Lampuuk. berjarak kurang lebih 20 km dari pusat kota Banda Aceh.  Pantai ini termasuk pantai yang landai, namun dikelilingi beberapa bukit bertebing. Ombak berdebur tenang, meski angin bertiup cukup kencang. Saat aku kesana, sudah tidak terlalu banyak pengunjung di pantai ini. Mungkin karena hari sudah menjelang sore. 

Dahulunya di sepanjang pesisir pantai, banyak terdapat pemukiman penduduk khususnya kaum nelayan. Pada saat Tsunami, perkampungan penduduk ini habis rata terhantam gelombang air raksasa . Rata, tak bersisa. Pantai Lampuuk ini termasuk saksi bisu kedasyatan bencana saat itu.


Saat kami kesana pun, tidak ada lagi bekas - bekas pemukiman. Pantai bersih rapi, polos. Seakan tidak ada jejak masa lalu yang kelam. Tapi justru keheningan dan kesyahduan pantai Lampuuk di daerah Lhok Nga ini membawa kita pada kenangan perih itu. Debur ombak yang sayup saling tindih dengan deru angin, seperti mengiringi keperihan itu. Tapi biru laut dan hijau pepohonan seakan menyirat sebuah harap, bahwa semua akan baik - baik saja. 




Di beberapa lokasi sepanjang garis pantai Lampuuk terdapat gubuk - gubuk kayu beratap rumbia yang disediakan untuk pengunjung yang ingin beristirahat atau berteduh. Biasanya ada yang berjualan air kelapa dan beberapa makanan lain. Tapi karena waktu yang sempit, hanya sekitar 15 menit saja kami di pantai ini, untuk segera kembali lagi menuju Banda. Semoga lain kali bisa lebih lama lagi menikmati Lampuuk.



Sebelum kembali ke hotel , kami sempatkan mampir ke Museum Tsunami. Bangunan megah menyambut kami. Arsitekturnya unik, dari luar terlihat futuristik. Museum ini baru diresmikan tahun 2012 lalu. bangunan ini terdiri dari 4 lantai. Masuk ke sini, seakan bisa menyeret kita pada kedukaan mendalam akan bencana Tsunami. 

Saat mulai memasuki bangunan, terdapat "bangkai" helikopter yang sudah rusak berat. Heli ini dipakai polisi untuk patroli udara, namun hancur juga dihantam gelombang. Masuk ke bagian dalam,  kita akan diantar  menyusuri lorong berdinding gelap yang panjang setinggi 6 - 12 meter dengan lebar lorong hanya sekitar 1 m saja. Lorong ini menggambarkan betapa menyeramkannya saat gelombang raksasa itu datang, manusia tak punya peluang apa - apa. Sesekali memercik air juga dari bagian atas. Suasana hati langsung tambah mencekam saat lantunan ayat Al Quran lamat - lamat diperdengarkan.  Yang terbayang di kepala adalah suasana kepanikan yang terjadi saat itu, dan kita manusia teramat kecil dibanding bencana ini. 





Dari lorong yang berbentuk sedikit melingkar seakan tak berujung ini, ini kita diantarkan menuju memorium hall, sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang di keseluruhan dindingnya tertulis nama - nama korban Tsunami. Dinding hall ini makin ke atas makin mengurucut membentuk cerobong, yang pada saat kita menengadah ke atas terlihat secercah cahaya di mana juga bisa kita lihat kaligrafi bertuliskan ALLAH. Syyuuppp, hati jantung dengkul sendi tulang lemesss banget. Lewat memorium hall ini kita diingatkan bahwa hanya kepada Penciptanyalah manusia kembali. Hanya kepada Allah lah kita menghamba serta memohon pertolongan. Tak lupa di situ kami kirimkan doa kami buat arwah korban Tsunami agar tenang berada di sisi Allahu ya Rabb. Al Fatihah...




Keluar dari Memorium Hall, kita akan melihat jembatan yang di atasnya adalah bagian atap bangunan besar ini. Suasana jauh lebih cerah, seolah menggambarkan bahwa di balik setiap musibah, akan selalu muncul semangat dan harapan baru untuk semua. Jembatan ini juga merupakan simbol bagaimana masyarat Aceh tetap terus menatap kedepan, tidak larut dalam kesedihan, bangkit dari tangis pilu, menjadikan musibah sebagai pengingat bahwa sang Khalik lah satu - satunya pemilik hidup. Tugas  manusia di dunia hanyalah mencari keridhoan-Nya. 

Di atas jembatan ini , dipasang lambang bendera banyak negara yang turut serta berpartisipasi menggalang bantuan pada saat tragedi menyayat hati dunia itu. Bukan hanya dana materi, namun bantuan tenaga pun bertubi - tubi datang atas nama kemanusiaan.  Bahwa apa yang kita rasakan saat itu, pun turut dirasakan sahabat - sahabat kita yang lain. Kita manusia tidak pernah tahu semua rencana dan garis takdir Illahi. Dari sekian juta hikmah yang bisa diambil dari bencana ini, di sini kita belajar bahwa Indonesia dengan segala carut marutnya, bisa belajar tentang sebuah bencana yang bisa datang kapan saja. Walaupun terbukti banyak negara sahabat yang membantu, tapi kita pun mesti bersiap diri. Beginilah Museum Tsunami ini diperuntukkan. Untuk pengingat bagi yang masih hidup, sejauh apapun kita melangkah, kita tetaplah kecil sebagai makhluk. 
Perjalanan satu hari penuh ini begitu menguras emosi ku. Tak terkatakan memang. Tapi menggurat dalam. Sekali lagi Aceh mengajariku banyak hal. Dan aku tahu, kenapa Allah mengijinkan langkahku menghampiri bumi serambi Mekah ini. Untuk melihat lebih banyak. Untuk mendengar lebih banyak. Untuk membuka hati lebih lebar. Lalu kemudian belajar menunduk. Bahwa aku bukanlah siapa - siapa.

bersambung.....

Selasa, 21 Mei 2013

Belajar dari mengajar di Aceh


Teman saya Lily Tyucake , sudah memberi tahu saya jauh hari sebelum keberangkatan kami ke Aceh. Teman Lily, Vera pemilik toko bahan kue Bogor di Banda Aceh, mengundang kami untuk mengajar kursus baking dan decorating cake. Dari pertama mendengar ajakan ini, aku sudah sangat exited. Sudah hitungan belasan tahun aku tidak menginjakkan kaki ke Bumi Serambi Mekah itu. Terakhir ke Aceh saat ikut Papaku meninjau pasukan operasi militer sewaktu Papa dinas di Kodam Bukit Barisan sekitar tahun 1994 dulu.  Jadi tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan ajakan Lily ke Aceh ini.. 

Hari 1 : Lalu tibalah saat keberangkatan kami ke Banda Aceh. Dengan perabotan lenong (baca: perlengkapan decorating) segambreng, kami berangkat pesawat jam 9 pagi. Karena harus transit di Medan, kami baru tiba di Banda Aceh pukul 12.30 siang. Vera sudah menjemput di bandara. 

Dari bandara, Vera mengajak kami makan siang di sebuah warung makan Aditya Jaya di daerah Blangbintang, masih seputaran Bandara juga. Menunya tidak banyak, Ayam "Sampah" , Gulai ayam dan Gulai Kambing. Wow, welcome lunch yang aduhai membelai lidah. 

Disebut Ayam Sampah, karena ayam ini digoreng bersama daun - daunan rempah penambah aroma sedap. Seperti daun pandan, daun kare (di Aceh disebut daun Temurui) serta cabe hijau. Sebelumnya ayam ini diungkep terlebih dahulu dengan bumbu kuning , baru digoreng bersama dedaunan tadi. Selain Ayam, Gulai Ayam dan Gulai Kambing nya tak kalah nikmat. Endes nikmeh sangat. 



Dengan perut yang nyaris penuh, Vera seakan tidak puas menjamu kami. Tak jauh dari Warung Aditya tadi, kami diminta Vera mencoba Rujak Aceh. Sebetulnya Rujak Aceh ini menurutku tidak jauh berbeda dari Rujak biasa yang kita temui di Jakarta. buah - buahan dipotong cacah kecil - kecil baru dicampur dengan bumbu gula dan kacang. Kata Vera, yang khas dari rujak Aceh ini adalah buah salaknya. Padahal kalau dicari, sudah susah membedakan yang mana buah salaknya, hehheheh. Yang paling seru dari makan di warung rujak ini adalah suasananya yang masih asri. Kita makan di pinggir sawah, yang masih banyak sapi serta kambing berkeliaran. Di Jakarta mau makan rujak? Selain nunggu tukang rujak lewat depan rumah (yang pemandangannya adalah pagar rumah tetangga) , di pasar yang kadang ada kadang nggak ada yang jual, atau pergi ke Mall. Heloo, mana sawahnya? :P


Selesai makan rujak , kami bergerak ke Banda Aceh. Sepanjang jalan , aku merasa ini memang lagi hari tersepi di Aceh atau kesehariannya sepi seperti ini. Maklum, biasa lihat Jakarta dengan segala kesemerawutannya, jalanan menuju Banda yang lengang jadi bikin heran.

Toko Bahan Kue - Bogor milik Vera terletak di tengah kota Banda Aceh, tepatnya di daerah pasar Peunayong. Hari sudah menjelang sore saat kami tiba di toko. Masih banyak yang harus dikerjakan untuk persiapan mengajar esok hari. Persiapan kami kerjakan sampai menjelang pukul 21.00. Lelah mulai mendera. Saatnya kami istirahat. Malam itu kami tidur di Hotel Medan, tak jauh dari Toko Bogor.  Pupuk energi untuk kerja berat esok hari.


Suasana pasar Peunayong di depan Toko Bogor


Hari 2 : Pagi harinya pukul 08.30 kami sudah tiba kembali di Toko Bogor. Ruangan sudah siap dipakai untuk kegiatan belajar decorating fondant dasar. Ruangan kelas tidak terlalu besar, tapi cukup memadai. Ada 4 orang peserta pagi ini. Setelah berkenalan satu sama lain, kami langsung mulai belajar tentang dekorasi fondant. Mulai dari tehnik menangai fondant yang benar, trick menutup cake dengan fondant lalu menghiasnya.





Ternyata, walaupun katanya baru belajar, para peserta tidak nampak kesulitan untuk belajar fondant. Masing - masing berhasil menyelesaikan 2 cake dekor fondant. Cantik - cantik pula hasilnya. Kayanya kalah nih pengajarnya. Hihhii.

Materi pertama selesai jam 15.30, lanjut bersih- bersih persiapan untuk materi selanjutnya. Pukul 16.30 materi Rainbow Cake, Ombre Cake dan Tiramisu in Jar dimulai. Kali ini pesertanya jauh lebih banyak, hingga 12 orang. Kami mengajarkan teknik dasar membuat cake, macam - macam cheese frosting serta mendemokan cara asembling cake supaya cantik rapi dan menarik. Peserta berganti-gantian ingin mencoba menata layer demi layer cake. Dan hasilnya pun kami mendapatkan cake yang luar biasa cantik dan tentu saja enak. Tak terasa waktu belajar Rainbow Cake sampai jam 21.00 lebih, kami berberes setelah peserta pulang, dan persiapan untuk materi besok. Selesai beres- bers, pukul 22.30 kami langsung pulang ke hotel, tidur!!!








Hari 3 : Pagi - pagi saat jalan dari hotel menuju toko Bogor, kami sedikit memperlambat jalan kami. Udara pagi Banda menyejukkan nafas. Bersih. Dari kejauhan masih tampak perbukitan hijau . Belum banyak polusi yang menutupi pemandangan. Jalanan juga masih lengang . Kami menikmati tiap hela nafas segar ini. Wuussshh aaahhh...


Ok, cukup urusan menghela nafas yang lebay tadi. Hari ini masih akan berlangsung 2 materi lagi sampai malam. Materi pagi adalah Flower Cupcake. Suasana kursus berlangsung santai hingga sore. Lalu lanjut materi berikutnya yaitu Kukis Hias. Nah, bagian materi sore ini yang seru banget. Pesertanya banyak, ngerjainnya seru, penuh canda dan gelak tawa. Waktu jadi makin terasa panjang karena kami harus antri oven untuk memanggang kukis yang sudah dihias. Setelah Royal icing di atas kukis mengeras , masih harus menunggu juga untuk dingin untuk akhirnya dikemas.  Jadilah waktu yang panjang ini kami gunakan untuk saling berbagi cerita suka duka bakul kue rumahan. Rupanya diantara peserta ada yang sudah tinggi jam terbangnya sebagai penjual kue, bahkan sebagai pengusaha catering.


Hebat-hebat ya mereka, selalu haus ilmu. walaupun pengalaman segudang, tetap ingin tahu hal baru seperti menghias kukis ini. Obrolan kami tak terasa hingga larut dan akhirnya mereka harus pulang. Jam setengah 10 malam bow, gak terasa banget.

Tapi bagi Vera, ini belum malam katanya. Dengan sisa - sisa energi di badan dan mata , Vera membawa kami keliling kota Banda dan menikmati suasana malam hari. Vera menunjukkan dan mengantarkan kami ke Masjid Baiturrahman. Lily dan Vera tidak turun karena peraturan menyebutkan harus berpakaian  muslimah untuk masuk ke area Masjid. Karena sudah malam , suasana Masjid terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja yang duduk- duduk di pinggiran Masjid. Masjid Baiturrahman ini luar biasa indah arsitekturnya. Pantas saja namanya begitu tersohor. Nuansa syahdu begitu terasa, ketika terdengar lamat-lamat lantunan ayat suci dari dalam Masjid. Sayang aku tidak bisa terlalu lama, mengingat hari sudah malam.




Setelah itu, kami menerima ajakan Vera untuk makan malam (ronde ke dua). Kami diajak  menikmati kerang rebus   dan martabak telur. Wah, kerang rebus dan sambal kacang nanasnya enak banget. Kerangnya terasa sangat segar. Lily sampai minta tambah lagi.  Hehhehee, laper atau doyan Ly?

Yang juga tidak kalah enak adalah Jus Alpokatnya. Dicampur kopi, saudara-saudara!! Maka jadilah malam itu aku minum Jus Alpokat Kopi. Enak banget, sensasinya beda dengan jus alpokat biasa yang diberi susu. Kami mengakhiri malam itu dengan obrolan panjang lebar soal bisnis kue dan bahan kue, sebelum akhirnya pulang ke hotel.





Hari ke 4  : Di perjalanan menuju Toko Bogor, aku sengaja mengambil jalan lain dari sebelumnya. Kali ini, aku melewati keramaian pasar, melihat hiruk pikuk transaksi serta melihat barang - barang yang ditawarkan para pedagang. Pasar Peunayong sedang ramai - ramainya pukul 08.00 itu. Terlihat juga beberapa kedai kopi yang ramai dipenuhi bapak - bapak yang minum kopi sambil mengobrol. Niatku untuk lebih banyak mengetahui keunikan - keunikan bumbu-bumbu di pasar Aceh ini, tertahan karena hujan turun. Aku langsung bergegas menuju Toko Bogor.



Kursus berjalan jauh lebih santai, karena tidak ada materi sore. Tapi ada 2 materi sekaligus yang disampaikan, yaitu carving cake tas prada dan flower cupcake. Yup materi flowercupcake ini diulang lagi karena ada beberapa peserta yang tidak bisa hadir di hari ke-2. Karena peserta tidak terlalu banyak, suasana jadi jauh lebih akrab. Gelak tawa menghiasi sepanjang siang itu.



Kopi Sanger & Mie Rebus di Mie Midi Ring Road
Saat materi hari itu usai, kami kedatangan tamu istimewa yang merupakan teman milis NCC, mbak Betty Firdaus yang datang bersama 2 anaknya. Bersama - sama dengan mbak Betty sore itu kami keluar untuk mulai menikmati kota Banda. Tujuan kami adalah makan mie Aceh dan minum kopi. Tempat yang kami datangi adalah Mie Midi di Ring Road. Wah, enak banget Mie rebusnya. terasa bumbu rempahnya. Lagipula, porsinya tidak terlalu besar jadi pas di perut. Kopi yang kupesan namanya Kopi Sanger. Kopi Sanger sebetulnya adalah kopi susu. Yakni kopi hitam dan dicampur susu kental manis. Jadi tidak terlalu 'berat' efek kopinya. Sedepppp. Setelah pulang, aku bergegas pulang ke hotel sementara Lily melanjutkan jalan bersama saudaranya yang kebetulan tinggal di Banda. Lumayan, bisa tidur lebih awal. Zzzzzz




Hari ke 5 : Wuuiihh, tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kami mengajar di Toko Bogor. Waktu serasa cepat sekali berjalan. Hari ini kami menyampaikan materi figurin fondant. Masing - masing peserta membuat 1 set figurin orang yang terdiri dari Bapak - Ibu dan 2 anak. Materi selesai sore hari, dan ternyata barang yang harus kami bereskan banyak sekali. Hahaha....

Usai berberes, kami mencari makan malam. Kali ini Vera mengajak ke Rumah makan Khas Aceh Trienggading. Rumah Makan ini mirip cara penyajiannya dengan rumah makan padang. Beberapa lauk di hidangkan bersamaan, lalu kita tinggal memilih lauk atau sayur yang akan kita santap.


Seperti lazimnya masakan Sumatera lainnya, masakan Aceh ini banyak tersaji berupa kuah santan dan berasa pedas. Ada beberapa makanan yang khas saya coba  seperti Kuah Pliek U (Kelapa yang difermentasi) , Tumeh Oengkot (Tumis Tongkol), Eungkot Asam Keueng (Ikan Asam Pedas). Semua rasanya istimewa di mulutku. tapi tidak berani banyak - banyak euy, selain karena kandungan santannya, hari sudah beranjak malam, tidak berani makan banyak.

Apalagi setelah dari sini, Vera mengajak kami mengicipi warung kopi terkenal di banda yaitu Kopi Solong Ulee Kareng. Walaupun saat itu sudah larut malam, warung ini masih saja ramai pengunjung. Tetap dengan Kopi Sanger, aku menikmati setiap detik kenikmatan menyeruput kopi Aceh .

Beda sekali rasa kopinya dibanding kopi lainnya . Nendang, tapi tidak berat. Ringan, tapi menyentil. *halahhh. Tidak lupa juga aku beli Kopi Aceh Ulee Kareng bubuk untuk aku bawa pulang.

Seruputan kopi sanger di Ulee Kareng malam ini mengantarkanku pada sebuah renungan di kepalaku tentang Aceh. Betapa indah dan kayanya daerah ini. Dari sisi budaya,kearifan lokal, keramahan sahabat-sahabat baruku, keragaman kulinernya, serta semerbak kopinya. Rasanya niat berangkat ke Aceh untuk mengajar, mengantarkan aku di posisi "sedang belajar" saat ini.

Aceh yang kupikir sedikit seram, ternyata menyambutku dengan "pelukan" dan senyum ramah penduduknya. Perihal aturan syariah yang sering diperdengungkan di ibukota, juga tidak menjadi hal yang menyeramkan di sini. Semua berjalan serasi, aman dan menyenangkan. Aku belajar tentang kebiasaan - kebiasaan penduduk lewat cerita sahabat - sahabat peserta kursus. Aku belajar tentang gelisahnya mereka , ketidak senangan mereka jika ada pihak yang ingin Aceh tidak lagi damai. Aku belajar bahwa sehebat apapun pencapaian orang, mereka terus mau belajar tanpa kenal lelah. Aku belajar banyak dari perjalanan ini. Beranjak dari renungan di kepalaku, kuseruput tetes akhir kopiku. Bergegas kembali ke hotel. Mengistirahatkan badan dan pikiran, untuk perjalanan esok  hari.


bersambung....


Jumat, 17 Mei 2013

Family Trip: Pulau Belitung part 2.

Bangun pagi masih dengan semangat tinggi. Masih hari untuk jalan - jalan pastinya. Sarapan di hotel Grand Hatika, tempat kami menginap. Seluruh rombongan selesai sarapan dan berkumpul di loby hotel jam 8 pagi. Menaiki bis yang sama, kami dibawa ke pantai Tanjung Kelayang, untuk persiapan menyeberang menuju Pantai Lengkuas. Kata tour leadernya , hari ini kami akan lupa daratan, karena seharian main di laut. Yuhuuuuu, seru banget!






Mendung tebal mengiringi keberangkatan kami menaiki perahu lepas dari Pantai Tanjung Kelayang. Sebelumnya kami dianjurkan mengenakan pelampung untuk berjaga - jaga. Dengan total rombongan kami yang banyak, harus menggunakan 2 perahu untuk mengangkut kami semua. Perahu kayu tersebut mampu mengangkut 15-20 orang kurang lebih. Digerakkan oleh motor di bagian belakang Perahu.





Meskipun mendung, namun angin laut sangatlah bersahabat. Ombak pun tenang mengiringi keberangkatan kami dari bibir pantai Tanjung Kelayang, menyusuri gugusan pulau - pulau kecil jajaran kepulauan Belitung. Terhampar indah di hadapan kami pulau -pulau kecil dengan ciri khas batu- batu granit yang luar biasa besar.

Setelah perjalanan sekitar 20 menit, kami dibawa ke Pulau Pasir. Pulau Pasir ini hanyalah pulau kecil berukuran diameter 8 - 10 meter saja, dan yang terlihat hanyalah gundukan pasir. Pada saat laut pasang, pulau ini bahkan terendam dan tidak nampak dari permukaan air. Di pulau ini banyak terdapat bintang laut. Sehingga binatang ini menjadi favorit objek foto. Walaupun saat itu hujan sudah mulai turun, kami tak segan untuk turun dari kapal, lalu bermain di hamparan pasir putih Pulau Pasir. Selain itu, menyelam di air lautnya pun, airnya putih bening. Foto di dalam air nampak seperti di dalam kolam.








Setelah puas bermain di Pulau Pasir, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lengkuas. Pulau Lengkuas merupakan tempat wisata favorit di Belitung. Daya tarik utamanya adalah keberadaan Mercusuyar yang dibangun sejak jaman Belanda, yang sampai saat ini masih berfungsi dengan baik. Pulau Lengkuas sama dengan umumnya pulau - pulau di Belitung lainnya, terdapat hamparan batu- batu granit yang menebar hampir rata di pantainya.  Pasirnya putih halus, pantainya jernih, membuat kita semua betah berlama- lama menikmati alam. Di pulau ini, kami menghabiskan waktu sepanjang siang untuk makan siang serta snorkeling. Sementara anak - anak kecil bermain pasir di pinggir pantai.








Selain kami sekeluarga besar ini, Pulau Lengkuas juga ramai dikunjungi oleh wisatawan lainnya. Cukup ramai juga hari itu. Masing - masing rombongan berkelompok untuk makan siang, sisanya menikmati alam Pulau lengkuas. Makan siang kali ini kami disuguhi banyak makanan enak. Mulai dari ikan bakar, cumi bakar, perkedel kepiting, udang goreng, dan lauk sayur lainnya yang tak kalah nikmeh. Kebayang kan setelah seru bermain air laut, lalu menikmati makan siang bersama dengan keluarga.



Dengan menaiki mercusuar setinggi 18 lantai ini, kita bisa melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Hamparan laut Cina Selatan membentang luas sejauh mata memandang. Birunya laut, putihnya pasir, dihiasi hitam cerah batu granit serta jajaran perahu kayu yang bersandar menambah lengkap eksotisme pemandangan Pulau Lengkuas.


Tak terasa waktu menjelang sore kami harus meninggalkan Pulau Lengkuas. Walaupun terasa mulai lelah, ternyata petualangan kami tidak berhenti sampai di Pulau Lengkuas saja. Setelah kurang lebih 10 menit kami meninggalkan bibir pantai Pulau Lengkuas, tour guide mempersilahkan kami untuk masuk lagi ke laut dan menyaksikan keindahan bawah air. Wah, serentak kami semua nyebur lagi. Perlengkapan snorkeling terpakai semua. Ada kurang lebih 30 menit kami di spot ini menyaksikan kehidupan dalam laut. Kebetulan masih di perairan dangkal sekitar 5-7 meter, jadi bagi kami yang sedikit pengalaman menyelam dan snorkeling tidak terlalu khawatir. Jadi deh berasa punya kolam air laut sendiri.




Setelah puas snorkeling, kami bergerak pulang menuju Pantai Tanjung Kelayang. Walau badan letih, tapi puas rasa hati. Kebersamaan dan pengalaman seru yang tak terlupakan. Kehangatan keluarga kami bertambah rasanya setelah puas seharian bermain bersama di keindahan pulau - pulau Belitung. Setibanya di pantai Tanjung Kelayang kami langsung mandi dan berganti pakaian, sambil juga menikmati pisang goreng serta empek - empek khas Belitung. Oh sungguh, nikmat Allah mana lagi yang hendak kita dustakan?

--------

Hari ke- 3 di Belitung adalah hari terakhir kami di sini . Karena jadwal pesawat jam 12 siang, tidak banyak tempat yang bisa kami kunjungi lagi. Kami hanya sempat berfoto di Bundaran Batu Satam kota Tanjung Pandan dan mampir sebentar di Museum Belitung. Museum Belitung berupa rumah adat Belitung, yang di dalamnya terdapat berbagai jenis pernak - pernik adat Melayu Belitung.












Rasanya waktu 3 hari tidak cukup buat kami untuk menikmati Belitung. Pemandangan alam nan elok, suasana nyaman menyenangkan, makanan yang enak segar memuaskan. Semoga masih ada umur panjang, badan sehat, langkah ringan untuk kami bisa kembali lagi menikmati keindahan alam Pulau Belitung. Buat teman - teman yang belum pernah, ayo segera ke Belitung. Dijamin bakal ngangenin (bikin kangen). Sumpah! *acung dua jari*

Salam takzim, sampai berjumpa lagi bumi Batu Satam..

 

Pengikut