Jumat, 04 Juni 2010

intipan dari kitab sebelah

Catatan ini pernah kuposting di facebook ku. Supaya kesannya diletakkan di tempat yang benar, ku tuangkan di sini saja..

Jilid I:
Aku berjalan bagai kembali ke masa lalu, dejavu lebih tepatnya.

Penerbangan pagi hari, layanan penerbangan serba seadanya. Antrian berdesakan. Sampai mengerdip ingin meyakinkan diri, di bandara internasional kah aku? Rasanya lebih mirip terminal.
Ada di atas burung besi, si kecil tertidur pulas..baru bisa mengamati... Beberapa titik sampah belum tersingkirkan..., beberapa point kerusakan dibiarkan.. Huffhhh pantes murah. Murah kok nggolek enak.
Waktu berlalu mengiringiku terlelap, desakan ingin membuang cairan memaksaku antri di bilik kecil itu.
Kulihat lambang hijau pertanda "you can enter this room please", kuputar kenop... Olala... Ada orang di dalam.. Pasang muka merengut karena aku memergokinya buang hajat..

Aduhh.. Bu... Kalo nggak tahu cara nguncinya, kenapa nggak ditahan aja knopnya?? Hiiihhhh... Malah aku yang malu.

Masuk bilik yang satunya... Huff!! Tisu bertebartan, wastafel penuh genangan air...
Mungkin yang masuk sebelum aku, bukan tidak bisa baca...
Banyak petunjuk bertempelan sana sini soal menjaga kebersihan dan keyamanan bilik kecil ini...

Larut aku dalam suasana nostalgi, semua kuanggap keanehan yang wajar..

Sampai akhirnya aku harus menginjakkan kaki lagi ke gerbong kereta api Medan- Rantau ini, berdebu, puntung rokok sana sini, gelas aqua...
Dan percayakah kamu? Kami naik kelas eksekutif.

Perjalanan ini seperti nostalgai... Dejavu..
Dan aku cuma rindu mertuaku, bukan perjalanan ini...



 Jilid 2:
Malam ke empat.

Irama langkahku melambat, tak sinkron dengan beragam rencana di kepala.
Di sini waktu serasa bergerak pelan.
Putaran waktu bergerak seperti tak berjarak.

Nafasku seperti mendadak berhenti,
Tak tahu caranya menikmati hari tanpa bekerja.
Anak yang sudah memilih bermain sendiri
Si Ibu ditinggalkannya bengong tak berarti.

Mungkin ini saatnya aku menghela,
Menyusun kembali tenaga, untuk berbuat lebih terarah.
Mungkin juga kalau tak begini, tak tahu kapan lagi ku tidur siang.

Di sana, aku tak begini.
Menulis note tak berarti,
Biasanya menulis apa pekerjaan esok hari...



Jilid 3:
Terganggu rindu.

Sungguh sangat terganggu aku dibuat rindu,
Bukan kemayu,
Tapi aku tak tahu...
Siapa, apa, mengapa dan bagaimana ku bisa merindu.

Datangnya seperti berlipat lipat badai,
Mendesak seperti lembaran buku tebal.
Aku sesak.

Perjalanan ini menuntunku pada suatu realita,
Bahwa bersama kadang tak berjumpa..
Terlalu jauh angan terbang. Hingga jiwa lupa pulang.

Jadi,
Ketika malam larut ini aku terdesak rindu,
Yang aku tak tahu,
Pada siapa, apa dan bagaimana..

Makin tersesat lah aku pada pusaran rindu..

Tidak ada komentar:

 

Pengikut